MENENGOK TRADISI WAYANGAN BHARATAYUDA WARGA KEBON AGUNG, GONDANG

Oleh : admin
13 Maret 2018
275
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

Masyarakat dukuh Kebon Agung setiap tahun selalu mengadakan acara bersih desa yang konon bertujuan untuk menghomati  roh nenek moyangnya dan selamatan.
Pada upacara Bersih Desa di dukuh Kebon Agung tersebut tidak terlepas dari sikap dan keyakinan bahwa keselarasan dan keteraturan hidup akan membawa dan menuntun mereka kepada kesejahteraan hidup bersama. Bagi masyarakat Jawa umumnya, dan masyarakat  dukuh Kebon Agung pada khususnya, yang memiliki simbol budaya yang berupa slametan yaitu upaya untuk menghindari terjadinya bahaya dari ancaman ghaib yang di anggap bisa membawa bahaya dalam hidup mereka.Upacara bersih desa tersebut bisa dikatakan sebagai perwujudan kepercayaan masyarakat setempat akan eksistensi kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tradisi atau upacara ini telah ada sejak jaman Agresi Militer Belanda ke II tahun 1949, dan sudah merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah  dilaksanakan oleh para generasi sebelumnya selama kurang lebih 23 tahunan.

Kemudian mulai tahun 1970 an diserahkan kepada generasi muda dan selanjutnya sekarang diurus oleh Karang Taruna dengan pesan agar dilestarikan. Tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun pada setiap bulan Juni, Juli atau agustus dan diambil pada hari Jum’at Pahing, maka disebut sebagai Bersih Desa Jum’at Pahingan.

Tradisi bersih desa ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mewujudkan rasa syukur warga masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas keberhasilan warga masyarakat dalam menanam padi sehingga mendapat hasil panen yang melimpah,serta mendapat hasil yang lebih baik lagi pada panen tahun berikutnya.Bersih Desa Jum’at Pahingan di Kebon Agung tersebut biasa menyajikan hiburan wayang kulit sehari semalam dengan cerita Perang Bharata Yuda Jayabinangun, sebagai dalang yang pertama kali adalah Ki Gondo Sutikno . Kemudian disusul oleh Ki Gondo Darsono, Ki Djono Sutikno, Ki Gondo Maming, Ki Sutadi dan Ki Mulyanto.Semuanya itu merupakan putra Gondang, karena konon dikatakan kalau dalang yang mementaskan wayang tersebut tidak mempunyai garis keturunan dari nenek moyang maka tidak akan kuat memainkan wayang tersebut. Namun pada tahun 1995 pementasan wayang kulit tersebut dibawakan oleh Ki Anom Hartono, dalang dari Ponorogo Jawa Timur.  Meski bukan keturunan dari putra Gondang namun Ki Anom Hartono bisa membawakan pertunjukan wayang tersebut sampai selesai dan ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri.

Selain itu ada juga pertunjukan Seni Reog yang telah dimiliki sekitar tahun 1950an. Uniknya tradisi ini semakin lama tidak semakin hilang tapi justru semakin berkembang. Dulu Bersih Desa di Kebon Agung ini hanya dilaksanakan oleh beberapa warga saja, namun sejak sepuluh tahun terakhir ini tepatnya tahun 2003 semua warga Kebon Agung mau mengikutinya  hal ini terkait dengan masalah pendanaan. Ritual bersih desa tersebut mengandung unsur unsur simbolik yang memiliki makna tersendiri. Secara simbolik terdapat simbol simbol yang memang sengaja dibuat oleh nenek moyang yang di dalamnya termuat pesan-pesan tertentu yang ditujukan kepada individu ataupun kelompok. Simbol-simbol tersebut secara tidak langsung menghubungkan manusia dengan kekuatan yang ada di sekitarnya dan Tuhan. Tindakan secara simbolik tersebut juga banyak dipengaruhi oleh adanya paham mitologi, animisme, dan dinamisme yang dianut sejak jaman nenek moyang. Mitos yang ada tetap melekat dalam diri pribadi-pribadi orang Jawa.


Sumber : Sri Suwarsiningsih dan wawancara dengan warga kebonagung Gondang


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account