Sudahkah Membaca Buku Hari Ini?

Oleh : admin
28 Juni 2018
494
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

JAKARTA, KOMPAS.com - Vira (25) mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia membaca buku. Ternyata, sudah sekitar empat hingga enam bulan lalu. Buku terakhir yang dibacanya adalah 'Dilan 1990'. Itu pun versi elektronik. Ia mengaku lebih suka mengisi waktu dengan mengeksplorasi internet karena dinilai lebih lengkap dan praktis. "Dari ponsel kita bisa tahu semua, nonton film, misalnya," ujar Vira. Senada dengan Vira, Pamella (25) juga mengaku kurang suka membaca. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali membaca buku. Meskipun, terkadang dia suka iseng membaca buku saat sedang menunggu di toko buku.

 

"Kayaknya (terakhir baca) waktu kuliah. Kadang kalau lagi lewat toko buku suka iseng baca sambil nunggu orang, tapi enggak sampai beres," kata Pamella. Ia mengaku kurang suka membaca buku karena jenuh dengan tulisan yang padat. Berbeda dengan buku bergambar, seperti komik yang menurut dia lebih seru. Selain itu, buku dianggapnya kurang praktis, terlebih saat ini sudah ada kehadiran ponsel. Informasi bisa dicari dengan lebih mudah dan efisien. "Biasanya kalau saya sendiri bacanya artikel-artikel di smartphone." "Enggak ribet kaya buku, kita cuma tinggal googling terus informasi yang kita butuh langsung muncul, cuma ya pilih-pilih juga sumber bacaannya," ucap Pamella. Vira dan Pamella hanya dua dari banyak warga Indonesia yang tidak terlalu gemar membaca buku. Padahal, dalam kesehariannya Pamella, misalnya, bekerja sebagai penulis konten di salah satu perusahaan start up.

 

Jika melihat posisi pekerjaannya itu, setidaknya, ia perlu membaca isu-isu terkini yang beekaitan dengan konten yang akan ditulisnya. Namun, sumber informasi menurut Pamella, bisa dicari dari beragam situs, baik dalam maupun luar negeri. Atau, melalui wawancara langsung dengan pakar. Lalu, bagaimana dengan mereka yang sehari-harinya tak berkepentingan membaca buku? Apakah kegiatan membaca buku sudah benar-benar terkesampingkan? Menurut data survei Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada 2015, tercatat, minat membaca masyarakat Indonesia sebesar 0,001 persen. Artinya, hanya satu dari 1.000 orang di Indonesia yang suka membaca. Sedangkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, menyebutkan, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Data terbaru tak lebih menggembirakan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Maret lalu menyampaikan hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017.

 

 

Penelitian tersebut menyebutkan, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Optimisme Meski sejumlah data menunjukkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, namun sejumlah pihak tak sepaham. Marketing Communication Periplus, Antonius Yanuar, misalnya, melihat adanya perbaikan di bidang pendidikan, sebagai imbas positif dari kegemaran masyarakat membaca. "Bisa kami bilang minat baca masyarakat Indonesia membaik." "Bisa dilihat perbaikan di pendidikan. Pendidikan zaman sekarang kurikulum juga berkembang, anak diwajibkan lebih banyak baca buku," kata Yanuar. Komunitas dinilai sebagai salah satu faktor yang mampu mendongkrak minat baca. Janet Kusuma, Penanggung Jawab Plaza Indonesia Book Club (PIBC) melihat pecinta buku sebetulnya banyak. Hanya saja aktivitas mereka menjadi kurang terlihat karena jumlah komunitas pecinta buku yang ada dianggap masih kurang banyak untuk mewadahi mereka. "Kalau kita lihat sebenarnya banyak book lovers tapi kayak kurang komunitasnya. Khususnya di Jakarta," tuturnya. Optimisme soal tingginya jumlah pecinta buku di Indonesia bukan tak ditopang fakta. Gelaran Big Bad Wolf April lalu, misalnya, menjadi pameran buku yang banyak disoroti dan menunjukkan antusiasme tinggi dari para pecinta buku.

 

Melalui akun Twitter @BBWBooks_ID, tim Big Bad Wolf menyampaikan jumlah pengunjung tahun ini mencapai 750 ribu orang, hanya dalam 13 hari pameran. Pengalaman dalam membaca Mereka, para pecinta buku, memiliki kesan dan pengalaman tersendiri yang didapatkan dari membaca buku. Yanuar, salah satunya. Dia menilai setiap orang mempunyai cara berbeda dalam memandang kegiatan "membaca buku". Pengalaman pribadi itulah yang membuat seseorang menjadi suka, kemudian cinta pada buku. Kegiatan membaca buku kemudian tak lagi dipandang sebagai hal yang sulit, melainkan sudah biasa dilakukan. Yanuar menyisihkan waktu khusus untuk membaca buku, karena kegiatan tersebut menurut dia memberi banyak manfaat positif. "Saya merasa baca buku bagian untuk bikin balance, baik di pikiran maupun kehidupan. Ada waktu tenang, enggak bicara dengan siapa pun, stop sosialisasi, apalagi online." "Coba mencari apa yang masih kurang dalam diri saya," tutur Yanuar. Sementara Raiy Ichwana, jurnalis yang juga seorang penulis buku pemula, mengaku kerap menyempatkan diri membaca 1-2 buku dalam sehari secara bergantian. Meski teknologi terus berkembang, namun buku fisik tetap menjadi favoritnya. Selain mencari tahu hal-hal yang ingin diketahui, Raiy mengaku punya kesan dan pengalaman sendiri saat membaca buku, yaitu mencium aroma kertas buku yang khas. "Saya suka wangi kertas buku. Selain itu kalau buku cetak bisa ditandatangani sama penulisnya, dan itu jadi memorabilia tersendiri," tutur dia. Kampanye Menurut Raiy, salah satu hal yang membuat orang malas membaca buku adalah karena melihat tebal buku atau malas membelinya. Pemerintah pun diharapkan bergerak lebih progresif untuk merangsang minat baca masyarakat. Misalnya, dengan kampanye di hari-hari khusus, seperti Hari Pendidikan Nasional atau Hari Buku Nasional. "Bisa digalakkan budaya baca satu buku dalam satu hari itu, dan share di media sosial. Mungkin juga perlu ada motivasi lewat tagar #sayaIndonesiadansukamembaca," kata Raiy.

 

Pemerintah sebetulnya sudah mulai menunjukkan itikad baiknya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang gemar membaca. Presiden Joko Widodo pada Hari Buku Nasional tahun lalu, misalnya, berjanji pada para pegiat literasi untuk menggratiskan biaya pengiriman buku pada hari tertentu setiap bulannya melalui PT Pos Indonesia. Ia juga sempat berjanji akan mengirimkan 10.000 buku bacaan kepada setiap pegiat gemar membaca yang tersebar di Indonesia. "Saya perintahkan di setiap titik, titik, titik, titik, itu dikirim paling tidak minimal 10.000 buku," ujar Jokowi usai menerima pegiat gemar membaca di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/5/2017) lalu. "Karena ada yang cuma punya 100 (buku). Tapi ada juga yang memang sudah punya 7.000 (buku). Ada yang cuma punya 200 (buku), tapi ada juga yang sudah punya 8.000 (buku)," lanjut Presiden. Hari Buku Nasional yang jatuh setiap 17 Mei tinggal hitungan hari. Apa yang bisa kita lakukan, sebagai masyarakat Indonesia, untuk merayakannya? Apakah membiarkan perayaan Hari Buku Nasional hanya seremonial belaka, atau berupaya menjadikan kegiatan membaca buku sebagai bagian dari gaya hidup?

https://lifestyle.kompas.com
Penulis : Nabilla Tashandra
Editor : Glori K. Wadrianto


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account