10 PERGURUAN PENCAK SILAT DI SRAGEN SEPAKAT CIPTAKAN KONDISI AMAN DAN KONDUSIF


admin | 06 Juli 2020 | 681

SRAGEN - Sepuluh Perguruan Pencak Silat yang ada di Kabupaten Sragen, sepakat untuk menjaga keamanan dan kondusifitas Kabupaten Sragen. Kesepakatan ini tertuang dalam MoU yang ditandatangani bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sragen di Ruang Paripurna DPRD Sragen, Senin (6/7/2020).

Surat perjanjian kesepakatan yang juga ditandatangani oleh Komandan Korem 074/Warastratama, Kolonel Infanteri Rano Maxim Adolf Tilaar ini tertuang dalam 7 poin kesepakatan.

Adapun perguruan pencak silat yang menandatangani MoU ini diantaranya, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Parluh 16, PSHT Parluh 17, Ikatan Kera Sakti Putra Indonesia (IKSPI), Pagar Nusa (PN), Tapak Suci, Perisai Diri (PD), Garuda Sakti, Cempaka Putih, Persinas Asad, dan Kumbang Malam.

Dalam Rapat Koordinasi Situasi Kamtibmas Wilayah Kabupaten Sragen ini, Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengumumkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen memberikan kebijakan bahwasannya Patung/tugu/prasasti/simbol/atau sebutan lain dari Perguruan Pencak Silat yang sudah berdiri sebelum rapat ini dilaksanakan akan dibiarkan untuk tetap berdiri dengan beberapa ketentuan yang menyertai.

"Tugu atau patung perguruan pencak silat yang sudah berdiri sekarang nanti untuk di hitung terlebih dahulu jumlah validnya berapa. Saya mengambil kebijakan agar patung atau tugu tersebut tetap dibiarkan dan patung atau tugu tersebut dipelihara jangan sampai rusak, oleh semua perguruan satu sama lain saling menjaga tugu/patung/simbol secara guyub rukun" jelas Bupati Yuni.

Meskipun tidak ada perobohan, warga perguruan pencak silat dilarang menambah atau membangun patung/tugu/prasasti/simbol baru di fasilitas umum milik negara atau pemerintah.

"Tidak ada izin untuk penambahan atau pembangunan tugu/patung/simbol baru apabila dibangun di jalan maupun tanah milik pemerintah pusat, provinsi, kabupaten ataupun desa kecuali patung tersebut berada di area lahan pribadi perguruan dipersilahkan, namun harus tetap susuai dengan aturan bangunan gedung yang berlaku" tegas Bupati Yuni.

Menurut Bupati, Pencak silat merupakan seni beladiri murni dari Indonesia yang menjadi tonggak persatuan bangsa dan harus di lestarikan. Dan seluruh anggota perguruan pencak silat harus bergandeng tangan menjaga keamanan dan persaudaraan di seluruh Indonesia, terutama di Kabupaten Sragen.

Oleh karena itu, Bupati berpesan agar 10 perguruan pencak silat di Kabupaten Sragen segera membentuk paguyuban agar jika ada konflik antar perguruan silat bisa segera diselesaikan melalui forum diskusi.

Bupati juga mengatakan Pemkab Sragen siap untuk mengakomodir jika sudah terbentuk paguyuban pencak silat.

"Saya bersyukur 10 perguruan silat di Kabupaten Sragen bersedia nyawiji menjadi sebuah forum komunikasi paguyuban," terangnya,

"Samakan visi misi untuk membangun Sragen yang kondusif, ayem, dan guyub rukun," pesan Bupati.

Atas hasil kesepakatan itu, selanjutnya Pemkab Sragen akan membentuk tim untuk menginventarisasi jumlah patung/tugu perguruan pencak silat yang ada di masing-masing desa.

Kendati demikian Bupati Yuni menambahkan tetap akan melakukan perobohan apabila tugu ataupun patung yang berada di pinggir jalan jika ada faktor pelebaran jalan atau pembangunan fasilitas umum lainnya.

Sementara Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhi Cahya Priambodo selaku moderator dalam rapat tersebut mengatakan kegiatan pertemuan tersebut bertujuan membuat kesepakatan cinta damai dengan seluruh perguruan ranting di Sragen serta mewujudkan situasi kamtibmas aman kondusif.

"Kami dari aparat keamananan POLRI dan TNI tidak bosan untuk menjaga keamanan wilayah ini sebagai upaya untuk menjaga agar Kabupaten Sragen selalu aman dan kondusif," jelas Kapolres. (MY_DISKOMINFO)

Berita Terbaru

Top