Desa Pancasila, Kota Wali, dan Reog

Oleh : admin
03 November 2017
125
  
data-layout="button_count" data-action="like" data-show-faces="false" data-share="false">

KETUA Umum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Eni Maulani Saragih, hari Jumat, 6 Oktober 2017 lalu mengundang saya untuk mengadakan perjalanan keliling Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Tempat pertama yang kami injak adalah sebuah desa berpenduduk sekitar 4474 orang. Desa Mbalun namanya.

Desa di kecamatan Turi, Lamongan ini, terletak sekitar empat kilometer utara jalan raya pantai utara (pantura) di kota Lamongan.
Jalan masuk ke desa yang dipimpin Kepala Desa Khusyairi ini bisa dimulai dari sebelah kanan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan kemudian menyusuri jalan di tepi anak sungai Bengawan Solo.

Sekitar jam empat sore, sinar matahari yang menerobos masuk ke ruang pertemuan balai desa terasa menyengat. Tapi suasana perjumpaan terasa sejuk.

Para tokoh berbagai agama, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hucu menyambut kami. Kemudian kami duduk bersila di depan berbagai makanan dari hasil bumi desa itu, singkong, jagung, kacang tanah, ubi dan seterusnya.
Di balai desa itu Kepala Desa, Khusyairi bilang penghasilan terbesar desa ini adalah padi dan ikan laut serta ikan airtawar. Sekitar 90 persen penduduk adalah petani.

“Di bulan Oktober ini nampak puluhan kendaraan truk dari luar desa dan luar Lamongan, nampak diparkir di halaman balai desa ini. Truk-truk itu datang ke sini untuk membeli dan mengangkut padi dan ikan,” ujar Khusyairi kepada Eni Maulani Saragih.
Akibat banyaknya kendaraan besar masuk desa ini, jalan utama desa jadi rusak parah.
“Padahal jalan yang begus sangat kami perlukan saat-saat ini. Sekarang banyak wisatawan datang ke desa ini,” kata Khusyairi.
Wisata religius

Tiga kabupaten di pantai utara Jawa Timur bagian barat, yakni, Gresik, Lamongan dan Tuban adalah bagian dari wilayah tempat tujuan wisata relegius. Di tiga wiayah itu terkenal sebagai tempat dimakamkan beberapa tokoh yang terkenal disebut Wali Songo.
Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, tiap hari di tiga kabupaten itu didatangi sekitar 10.000 turis yang berjiarah ke makam-makan para Sunan.

Di Lamongan ada makam Sunan Drajad, di Gresik ada makam Sunan Giri, Syekh Maulana Malik Ibrahim dan di Tuban selain ada Pesantren Langitan ada makam Sunan Bonang.

Gresik juga terkenal sebagai kota santri karena banyak sekali pondok pesantren. Pesantren-pesantren di Tuban, Lamongan dan Gresik juga bagian dari obyek turisme relegius dan penelitian bidang pendidikan dari orang-orang Barat.

“Makam-makam para tokoh Islam itu didatangi para peziarah bukan di pagi sampai sore, tapi juga di tengah malam. Para peziarah dan turis mengalir selama 24 jam ke makam Sunan Giri di atas bukit yang banyak mengandung bahan untuk semen dan situs tempat Sunan Kalijogo bertapa di bukit Surowiti,” kata seorang anggota DPR Kabupaten Gresik, Asroim kepada saya.

Menurut Gus Maksum Jauhari, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Langitan, di makam para Sunan atau tempat-tempat mereka bertapa, selalu mengandung sumber energi seperti gas alam, minyak bumi atau bahan untuk semen.
“Coba perhatikan tempat bertapanya Sunan Kalijogo di Sorowiti dan Sunan Giri,” ujarnya.
Pluralistis

Suatu hal menarik di wilayah para Wali Songo ini, sejak dulu juga telah berkembang di kalangan masyarakat di wilayah tersebut budaya menerima perbedaan agama dengan damai.
Wilayah yang penuh dengan kultur dialog dan saling menerima perbedaan itu ditunjukan oleh seorang anggota DPRD Kabupaten Lamongan, Ujiek Silvian Effendy.

“Di sekitar alun-alun Desa Mbalun itu sejak dulu kala telah ada mesjid, gereja, pura, klenteng dan seterusnya. Hal biasa di dalam satu rumah, satu keluarga, ada yang beragama Islam, Kristen dan Hindu atau Budha,” ujarnya.

Di Desa Durikedungjero, Kecamatan Ngimbang, Lamongan selatan, juga telah lama berkembang tradisi pluralistis. Di desa yang saat ini dipimpin Kepala Desa Septi Wahyu Krisdayanto otu punya kelompok kesenian reog yang tak kalah bagusnya yang ada di Ponorogo.
“Tolong sampaikan ke Presiden Joko Widodo, rombongan reog Desa Turikedungjero ini bisa ditampilkan di istana. Cukup layak kok,” ujar Ujiek kepada Eni Maulani Saragih, ketua umum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat atau LPM yang juga warga Muslimat Nahdlatul Ulama itu.

Kembali soal Desa Mbalun di Lamongan Utara. Menurut Kepala desanya, Khusyairi, hampir tiap hari ada rombongan dari perguruan tinggi dari Jakarta, Bandung dan luar negeri datang ke Desa Mbalun untuk melihat hidup bersama dalam perbedaan ini.
“Orang-orang yang datang itu menyebut desa ini desa Pancasila. Hampir tiap hari banyak turis datang ke sini,” ujar Khusyairi.
Khusyairi mengatakan dirinya hanya penerus yang menjaga pluralismedi kawasan para Walisongo ini.

“Desa ini pernah didatangi Presiden Abdurrahman Wahid. Saya kini melanjutkan petuah beliau. Tolong sampaikan Istana Presiden di Jakarta dan seluruh Indonesia,” kata Khusyairi kepada Eni Maulani Saragih.

Editor ; Heru Margianto
JOSEPH OSDAR
http://nasional.kompas.com

 


komentar
tulis komentar anda

Create Account



Log In Your Account