Fri, 3 September 2010
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • September, 2010
  • Agustus, 2010
  • Juli, 2010
  • Juni, 2010
  • Mei, 2010
  • April, 2010
  • Maret, 2010
  • Februari, 2010
  • Januari, 2010
  • Desember, 2009
  • November, 2009
  • Oktober, 2009

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Nasional


    [ 03/12/2008, 16:10 WIB ]
    MENITI LANGKAH LEWAT KOPONTREN MENUJU SANTRI YANG MANDIRI


     

           SRAGEN -  Memasuki dukuh Bedono desa Pengkol kecamatan Sukodono, sekilas tak berbeda jauh dengan dukuh-dukuh lainnya. Suasana pedesaan tampak kental terlihat di desa ini. Di kanan kiri jalan terlihat hamparan luas sawah dengan batang-batang padi yang sedang menghijau. Pepohonan sengon banyak tumbuh berjajar di kanan kiri disepanjang jalan masuk ke desa yang seakan ingin memayungi setiap insan yang lewat dari teriknya sang matahari.

           Setelah memasuki pintu gerbang dukuh, di kanan kiri jalan terlihat beberapa orang santriwati yang sedang berjalan bergerombol sambil bercanda ria. Sebuah senyuman yang ramah tersungging dari bibirnya yang mungil.  Tak jauh dari situ tampak sebuah bangunan yang cukup besar. Didepan bangunan tersebut  terlihat papan nama pondok pesantren Al Hikmah.

           Sekilas tak nampak bangunan ini merupakan sebuah pondok pesanten melainkan lebih terlihat seperti bangunan sekolahan. Sebagian bangunannya terlihat belum diplester dengan semen. Meski begitu bangunan ini tetap mengesankan sebuah kemegahan, karena berdiri di tengah-tengah suatu desa yang jarang berdiri bangunan sebesar ini.

           Saat tertegun mengamati lokasi pesantren, tak lama seorang bapak muda telah muncul. Bapak muda tersebut ternyata salah seorang penanggung jawab aktivitas koperasi pesantren (Kopontren) beserta unit-unit usaha yang dikelolanya. Kopontren Arta Hikmah, begitu namanya koperasinya.

           Kopontren Arta Hikmah merupakan salah satu dari 26 Kopontren yang ada di Kabupaten Sragen. Kopontren ini terbilang kopontren yang paling sehat dan paling besar azet dan omzetnya. Bapak muda yang biasa dipanggil Nur Muhammad oleh para santrinya itu  menjelaskan, Kopontren Arta Hikmah belum lama berdiri, baru sekitar 4 tahun silam, tepatnya tahun 2004. Perintis Kopontren Arta Hikmah ini tidak lain adalah (Alm) KH. Wahono dan Nur Muhammad. (Alm) KH. Wahono juga merupakan tokoh pendiri pondok pesantren Al – Hikmah. Beliau meninggal tahun 2006 silam. Setelah beliau wafat kepengurusan pesantren diserahkan kepada anaknya KH. Mazida Iqbal Wahono. Sementara pengelolaan koperasi di pegang oleh Nur Muhammad.

           Aset dan omzet kopontren ini mulai berkembang cukup pesat sejak bekerja sama dengan Bantuan Layanan Umum (BLU) yang dikelola oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kab. Sragen, sekitar tahun 2006 lalu. Tahun pertama menjadi nasabah BLU, kopontren ini mendapat bantuan pinjaman bunga lunak sebesar 10 juta rupiah. Tahun ke dua, atau tahun 2007, kembali kopontren ini mendapatkan bantuan pinjaman sebesar 30 juta.


           Gelontoran dana pinjaman lunak ini digunakan kopontren Arta Hikmah untuk menghidupkan unit-unit usahanya yakni unit usaha simpan pinjam, toko yang menjual kebutuhan para santri, jasa layanan fotocopy, usaha jahit menjahit dan usaha peternakan. Semua unit usaha ini dikelola oleh para santri sendiri.

           Keberadaan kopontren ini telah membawa angin baru dalam rutinitas sehari-hari para santri. Sejak saat itu, kegiatan pesantren menjadi lebih hidup. Para santri tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pelajaran sekolah saja, namun juga diajarkan bagaimana bertahan hidup dengan pelatihan ketrampilan life skill menjahit, mengelola toko dan beternak.

           Unit simpan pinjam yang dikelola koperasi ini juga sangat membantu para alumni pondok pesantren ini dalam mengembangkan dagangannya. Mayoritas para alumni berprofesi sebagai pedagang. Tercatat kurang lebih 150 orang alumni yang menjadi anggota aktif koperasi. Aktivitas simpan pinjam di unit ini berjalan baik. Peran serta dan andil para alumni di kopontren ini sangat besar manfaatnya untuk mengembangkan kopontren, jelas Nur Muhammad.

           Pembentukan kopontren beserta unit-unit usahanya ini menurut Nur Muhammad didasari keinginan untuk mengembangkan fungsi pondok pesantren, yang semula hanya digunakan untuk menimba ilmu agama saja,  dikembangkan menjadi pusat pengembangan ekonomi rakyat.

           Sejak berdiri hingga saat ini aset kopontren ini sedikit demi sedikit mengalami pertumbuhan. Saat ini menurut Nur Muhammad, aset kopontrenya telah mencapai lebih dari Rp. 300 juta. Sementara omzetnya telah mencapai lebih dari Rp.  400 juta. Jumlah anggota kopontrenya tercatat lebih dari 350 orang. Anggotanya tidak lain adalah para santri dan para alumninya.

           Di dalam lingkungan pondok, santriwan dan satriwati banyak terlihat sedang melakukan berbagai aktivitas. Wajah wajah cerah nampak memancar dari setiap santri. Tak tergambar sedikitpun sebuah wajah yang muram. Didalam  ruangan pelatihan menjahit puluhan santriwati terlihat serius memainkan mesin-mesin jahit. Nur Muhammad menjelaskan selain sebagai sarana pelatihan bagi para santri, usaha jahit ini juga memberikan income bagi kopontren. Dari kegiatan jahit menjahit selain para santri selain memperoleh ketrampilan menjahit juga diajari bagaimana mengelola sebuah usaha garment.

           Untuk pemasaran produk yang dihasilkan,  pihak pengelola bekerja sama dengan para alumni pesantren yang  tersebar di berbagai tempat. Semua kebutuhan jahit menjahit para santri dan alumni biasa dilayani disini. Ikatan bathin dan kerjasama dengan para alumni masih kental. Hampir setiap minggunya para alumni berkumpul disini untuk mengikuti pengajian rutin. Setelah pengajian rutin inilah berbagai program untuk meningkatkan koperasi di perbincangkan.

           Dilingkungan pondok pesantren juga terdapat unit usaha pengembangbiakan   ternak kambing. Peternakannya memang masih terlihat sangat sederhana. Namun, menurutnya peternakan ini akan dikembangkan menjadi peternakan sapi. Sebuah kandang sapi juga sudah terlihat sedang disiapkan. Peternakan ini juga merupakan salah satu unit usaha yang dikelola oleh kopontren. Disebelah peternakan, terlihat sebuah tanah yang sedang disiapkan untuk sebuah empang ikan.

           Selain ternak, pondok pesantren juga mengelola  unit usaha penjualan,  berupa sebuah  Toko kelontong yang terletak  di bagian depan pondok. Meski kecil toko ini terlihat menjual lengkap semua kebutuhan para santri. Nur Muhammad menjelaskan, semua santri biasanya membeli kebutuhan sehari-harinya di toko ini. Dari pada membeli kebutuhan sehari-hari di luar pondok, lebih baik membeli di toko ini, sehingga akan bisa membantu membesarkan koperasi, jelasnya.

           Dilingkungan pondok juga telah tersedia laboratorium praktek komputer. Didalam laboratrorium nampak  terlihat, puluhan santri yang sedang mengoperasikan komputer yang cukup canggih. Untuk ukuran sebuah desa yang jauh dari pusat kota laboratorium komputer ini sudah sangat cangih sekali. Tak disangka di sebuah desa yang jauh dari pusat perkotaan ternyata telah memiliki laboratorium praktek komputer dengan fasilitas yang cukup lengkap dan canggih.

           Sementara menurut Catur Jatmiko, SE, MM Kepala Bidang Pembinaan Koperasi dan UKM Dinas Perindagkop dan UKM Kab. Sragen, Pemkab Sragen sangat peduli dalam mendorong pertumbuhan kopontren sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI nomor 15 / Per / M.KUKM / VII / 2006 . Tujuan pemberdayaan kopontren, kata  Catur Jatmiko, tidak lain untuk meningkatkan ketrampilan teknis dan managemen usaha para santri sehingga setelah lepas dari pondok para santri diharapkan dapat hidup mandiri. Catur berharap, dua puluh lima kopontren lainnya yang tersebar di wilayah kabupaten Sragen diharapkan dapat mengikuti jejak kopontren Arta Hikmah. (Hart – Humas)





    ---- KLIK DISINI  ----



     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+