Tue, 29 July 2014
    
 
 
  Untitled Document
CARI BERITA

Masukkan kata :

ARSIP BERITA

  • Juli, 2014
  • Juni, 2014
  • Mei, 2014
  • April, 2014
  • Maret, 2014
  • Februari, 2014
  • Januari, 2014
  • Desember, 2013
  • November, 2013
  • Oktober, 2013
  • September, 2013
  • Agustus, 2013

  • TOPIK BERITA

  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Iptek
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Hiburan

  • BERITA DAERAH

  • Sragen
  • Karangmalang
  • Masaran
  • Kedawung
  • Sidoharjo
  • Gondang
  • Sambungmacan
  • Sambirejo
  • Ngrampal
  • Sumberlawang
  • Gemolong
  • Miri
  • Kalijambe
  • Plupuh
  • Tanon
  • Mondokan
  • Tangen
  • Gesi
  • Sukodono
  • Jenar


  • Disponsori oleh :




     

    Halaman Berita


    Nasional


    [ 22/04/2011, 12:52 WIB ]
    SURAT-SURAT KARTINI


     
           Dalam menyambut Hari Kartini, kemarin kita ungkap beberapa pemikiran Kartini yang sangat cemerlang untuk mengangkat derajat kaumnya. Berikut kita beberkan kisah Kartini menembus kungkungan adat feodal di lingkungan keluarga bangsawan Jepara, melalui surat-surat yang ditulisnya.

           Ketika Kartini memasuki usia 12 tahun, ia sudah berkembang sebagai remaja putri. Menurut ketentuan adat, Kartini harus di ”pingit”, artinya tidak lagi diperbolehkan keluar batas-batas tembok kabupaten. Hal ini dirasakan oleh Kartini sebagai kekangan dan ketidakadilan terhadap kaumnya. Penderitaan dalam pingitan itu menimbulkan tekad untuk menembus adat yang dianggap kejam dan menghambat kemajuan ini. Dalam pandangan Kartini, kaum perempuan harus mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi pendidik yang utama bagi anak-anaknya.

            Untuk mewujudkan cita-citanya, Kartini minta kepada ayahnya agar ia diijinkan untuk masuk sekolah HBS di Semarang. Tetapi dengan hati berat, ayahnya tidak mengijinkan permintaan itu walau ia tahu anaknya ini sangat cerdas dan telah mahir bahasa Belanda.

           Kartini tidak putus asa. Ia berusaha mencari jalan terus untuk melanjutkan sekolah. Dengan bantuan kawan-kawannya, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk meneruskan studi di negeri Belanda. Namun mendadak Kartini dihadapkan pada persimpangan jalan. Jalan pertama sudah terintis menuju terlaksananya cita-cita ingin meneruskan pendidikan, tetapi disisi lain ia ingat perasaan ayahnya. “Apakah aku harus meninggalkan ayahanda yang kucintai sepenuh hati…?”, kata Kartini. Akhirnya, ia tidak tega menyakiti hati orangtuanya.

            Beasiswa yang telah diperjuangkan susah payah itu, akhirnya diberikan kepada seorang pemuda cerdas dan penuh cita-cita, namanya Agus Salim. Dikemudian hari pemuda ini bernama Haji Agus Salim, salah satu pemimpin bangsa Indonesia terkenal, pernah menjadi Menteri Muda Luar Negeri dan seorang diplomat ulung tingkat dunia yang sangat disegani oleh semua kalangan.

            Sebagai putri seorang bupati yang berpikiran maju, Kartini memperoleh kesempatan untuk berkenalan dengan para isteri pejabat Belanda yang mengadakan perjalanan dinas ke Jepara. Dari perkenalan itu terjalinlah persahabatan sangat erat, yang dilanjutkan dengan surat-menyurat. Meski usianya terpaut jauh, Kartini tidak merasa canggung dan malu, bahkan ia sendiri yang mengajak untuk menjalin persahabatan dan bertukar pikiran. Diantara sahabat-sahabatnya itu tercatat nama Ny. Ovink Soer, Ny. Stella, Ny. Van Kol dan Mr. J.H. Abendanon.

           Sejak saat itu, tiap hari Kartini menyediakan waktu khusus untuk menulis surat kepada para sahabatnya. Ketika itu Kartini selalu melahap berbagai informasi dari buku, koran dan majalah sehingga pengetahuannya amat luas. Kartini benar-benar memanfaatkan waktu dalam “pingitan” untuk membaca dan bertukar-pikiran melalui surat menyurat (koresponden) dengan sahabatnya di dalam maupun luar negeri. “Membaca dan menulis adalah segala-galanya bagiku. Tanpa kedua hal tersebut, barangkali aku mati”, tulis Kartini kepada temannya. Sabahat Kartini terus bertambah, karena ia juga berkenalan kepada banyak orang lewat koran atau majalah alias “sahabat pena”.

           Dari surat-surat itu terungkap, Kartini merasa tersiksa melihat gadis pribumi yang sangat dikekang atau terkungkung oleh adat. Ia mengatakan keinginan dan cita-citanya. Semua sahabatnya harus tahu, barangkali saja mereka dapat membantunya. Itulah sebabnya ia terus menerus menulis dan menulis dari belakang tembok kabupaten yang tebal dan tinggi itu.

           Dari para sahabatnya di negeri Belanda, Kartini menerima buku-buku dan majalah. Disamping itu mereka juga selalu mendorong Kartini untuk banyak membaca dan menuangkan pikiran melalui tulisan-tulisan agar diketahui oleh masyarakat luas. Karena itu selain menulis surat untuk para sahabanya, tulisan atau artikel Kartini pun banyak dimuat di majalah dan koran.

           Kartini juga tidak tinggal diam. Untuk mewujudkan cita-citanya ke arah pendidikan kaum wanita Indonesia (pribumi), dengan persetujuan dan bantuan Direktur Departemen Pengajaran Hindian Belanda, Mr. J.H. Abendanon, tahun 1900 Kartini membuka sekolah kecil di halaman Kabupaten Jepara. Pada mulanya hanya terbatas pada lingkungan keluarga, tetapi kemudian masyarakat diluar kabupaten mulai menghargai usahanya dan menyerahkan anak-anaknya untuk dididik.

           Tahun 1903 Kartini menikah dengan Raden Adipati Ario Djojohadiningrat, Bupati Rembang yang sangat menghargai dan memberikan bantuan sepenuhnya atas usaha Kartini. Beberapa bulan sesudah pindah di kabupaten Rembang, bulan Januari 1904 ia membuka sekolah gadis di tempatnya yang baru itu. Sedangkan sekolah di halaman Kabupaten Jepara diteruskan oleh adik-adiknya.

           Sayang, kebahagiaan dan usahanya itu tidak lama dapat dinikmati oleh putri agung ini. Tanggal 17 September 1904, lebih kurang satu tahun setelah menikah dan lima hari setelah melahirkan puteranya yang pertama, Kartini meninggal dunia, menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya, dalam usia sangat muda, 25 tahun.

           Namun demikian, perjuangan dan cita-cita Kartini tidak terhenti sampai disitu. Tahun 1911, Mr. J.H. Abendanon, salah satu sahabat Kartini yang juga menjabat Direktur Departemen Pengajaran Hindian Belanda menerbitkan sebuah buku berjudul “Door Duisternis tot Licht”. Tahun 1923 buku ini telah mengalami cetak ulang ke-4.

           Baru sekitar tahun 1938, Balai Pustaka Jakarta menerbitkan terjemahannya dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini berisi kumpulan sebagian dari ratusan surat Kartini kepada para sahabatnya orang Belanda yang ditulisnya antara tahun 1900 hingga 1904. Dalam surat-suratnya itu terbentang cita-cita dan tersirat duka derita batinya. Terasa didalamnya betapa jauh gagasan-gagasan Kartini meninggalkan alam feodal tempat ia dibesarkan. Betapa jauh ke depan pandangan-pandangannya dan begitu besar kasih sayangnya terhadap kaumnya.

           Di kemudian hari, surat-surat Kartini itu telah menarik perhatian dunia dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Di Amerika misalnya, seorang bernama Agnes Louise Symmers menerjemahkan kedalam bahasa Inggris berjudul “Letters of Javanese Princess”. Ada juga terjemahan bahasa Perancis dengan judul “Letters de R.A. Kartini”, dan masih banyak lagi.

           Dalam salah satu surat kepada seorang sabahatnya, Kartini menulis : “Stella. Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Begitu juga banyak lobangnya. Jalan itu berbatu dan berliku-liku… Biarpun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan perasaan bahagia, sebab jalannya telah dirintis. Aku telah ikut membantu untuk membuat jalan yang menuju ke arah wanita bumiputra yang berdeka dan berdiri sendiri…..

           ” Sayang sekali, pikiran dan gagasan cemerlang Kartini dalam semua aspek kehidupan yang bisa dilihat dalam surat-suratnya itu, tidak banyak diketahui Wanita masa kini. Beberapa kaum wanita, meski berpendidikan tinggi, ketika saya tanya tentang sosok Kartini ternyata tidak begitu paham, apalagi pernah membaca surat-suratnya. Peringatan Hari Kartini tiap tahun yang kita lihat sekarang lebih banyak bersifat seremonial. Upacara, menyanyikan lagu ”Ibu Kita Kartini”, kaum perempuan memakai kebaya, lomba masak atau kontes kecantikan...(Suparto-Humas).


     

     
     
     

    Powered by Team PDE Sragen © 2003, untuk sragenkab.go.id
    Situs ini akan lebih maksimal berjalan pada resolusi 1024 x 768 dan dengan Browser IE 5+