Foto

KREATIF, TEKI CIPTAKAN ALAT MUSIK GAMELAN DARI BATU


admin | 04 Nopember 2020 | 648

SRAGEN - Pernahkah membayangkan jika batu alam ternyata bisa menjadi alat musik. Sepintas memang agak tak lazim.

Namun ditangan terampil Teki Teguh Setiawan (26), warga Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, batu alam yang biasa digunakan untuk material bangunan itu mampu dirubahnya menjadi alat musik gamelan batu berbunyi nada yang enak didengar.

Teki Teguh Setiawan menceritakan awal Idenya menciptakan ensambel stone (musik dari batu) ini terinspirasi saat dirinya berkunjung di Goa Tabuhan yang berada di Wareng Kidul 2, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Dirinya mengaku tertarik dari batu-batu di Goa tersebut karena bisa mengeluarkan bunyi dan nada.

"Dulu pertama kali terinspirasi waktu di Pacitan, disana terdapat Goa Tabuhan dimana terdapat bunyi-bunyi musik dan menghasilkan nada yang menarik saya," ungkap Teki.

Karena Teki mempunyai basic di bidang seni karawitan, kemudian dirinya mencoba menggabungkan batu dari alam menjadi musik yang enak didengar.

Sebelum menentukan batu yang bernada, Teki yang merupakan lulusan S2 ISI Surakarta tersebut terlebih dahulu melakukan penelitian sampai mencari bahan sendiri selama tiga bulan di toko bangunan yang berada di luar kota.

"Istilahnya ini batu-batu alam pilihan yang saya sortir sendiri. Harus jeli dan mencocokkan satu persatu batunya agar bisa mempunyai tangga nada pentatonis. Setelah mendapat batunya, kami buatkan tempat, disteam lalu dikasih resonator," kata Teki.

"Dari situlah membuat konsep dengan mengimplementasikan alat gamelan seperti gemung peron Peking dan gong ke batu. Konsepnya itu ada sejak tahun 2017 hingga di tahun 2018 pertengahan baru terealisasikan," papar Teki.

Alat musik gamelan batu ini terdiri dari Demung watu (Mungwa), Saron Watu (Ronwa), Peking watu (Kingwa) dan Gong watu (Gongwa).

Gamelan batu yang kini berada di Sanggar Adi Raos, Dukuh Bojong RT 10, Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini sudah mulai ditampilkan pada event-event tertentu.

"Acara terakhir SIPA (Solo International Performing Art) bulan september kemarin lewat daring, sebelumnya acara dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen," kata Teki.

Untuk jumlah pemain gamelannya, terdiri dari delapan penabuh dan satu penyanyi. Penabuh dan penyanyi sendiri berasal dari keluarga dekat Teki, sementara sinden atau penyanyinya adalah sang Ibu dan ayah Teki menjadi penabuhnya.

Teki mengaku bakat yang dia punya merupakan turunan dari kedua orangtuanya.

"Akhirnya alat musik ini juga dimainkan oleh bisa dibilang keluarga besar anak dari paman saya. Jadi penabuh gamelan batu ini sudah ada pemilihan tim sendiri," pungkasnya. (MY_DISKOMINFO)




Berita Terbaru

Top